Rabu, 23 Desember 2009

Potensi Sapi Potong

Pengembangan Sapi Potong di Kalimantan Timur

Gambaran UmumPertambahan jumlah penduduk, peningkatan pendapatan dan pengetahuan masyarakat tentang gizi berbepangur terhadap pola konsumsi masyarakat kearah gizi berimbang sehingga memberikan peluang pemasaran hasil-hasil peternakan. Disamping itu, terbukanya perdagangan Internasional mengakibatkan kemungkinan ekspor ternak dan hasil ternak yang semakin meningkat.
Dirjen Produksi Peternakan Departemen Peternakan (2002), menetapkan konsumsi protein minimum masyarakat Indonesia sebesar 55 gr/kapita/hari, meliputi protein nabati 44gr dan protein hewani 11 gr. Protein hewan asal produk ternak sekitar 4,5 gr/kapita/hari, ini setara dengan 7,6 kg daging, 5,5 kg telur dan 4,6 kg susu. Daging sapi menyumbang dengan pangsa 25,41 %, atau memerlukan daging sebesar 6 gr/kapita/hari.

Jika sasaran pembangunan peternakan Kalimantan Timuruntuk mencapai swasembada daging sapi pada tahun 2010, maka populasi sapi ditargetkan sebanyak 491.200 ekor pada tahun 2008, sehingga diperlukan pemasukan bibit sapi rata-rata 68.000 ekor pertahun sejak tahun 2004 (Dinas Peternakan Prov.Kaltim,2003).

Hal tersebut menunjukkan besarnya peluang permintaan daging sapi ditingkat lokal Provinsi Kalimantan Timur, dibanding di pulau Jawa yang memiliki keterbatasan lahan.

Kondisi pengembangan peternakan sapi saat ini sangat terbuka bagi investor dalam dan luar negeri di Kalimantan Timur yang mempunyai prospek yang baik, menguntungkan dan layak untuk diusahakan.

Berdasarkan pertimbangan kelayakan indikator kewilayahan, dipertimbangkan untuk menetapkan 2(dua) wilayah yang dapat dijadikan sebagai daerah prioritas bagi pengembangan investasi usaha sapi potong, yaitu Kabupaten Pasir,dan Penajam Pasir Utara.

JENIS SAPI

Jenis sapi yang cocok untuk dikembangkan wilayah Kalimantan Timur adalah Sapi bali, merupakan domestika dari banteng liar (Bos Sondaicus) yang habitat aslinya di Pulau Bali. Bentuknya fenotik spesifik dengan kulit berwarna coklat muda(untuk betina) dan pejantan cenderung hitam, sementara bagian pantatnya putih.

Keunggulan dari sapi bali adalah memiliki daya adaptasi yang baik terhadap berbagai kondisi lingkungan baik kering maupun hujan, bisa hidup liar dengan mencari makan sendiri, di areal pembuangan sampah sekali pun. Sapi Bali sangat responsif terhadap perlakuan baik serta memiliki tingkat kesuburan reproduksi tinggi yaitu antara 80-82 %. Sapi induk (betina) mampu melahirkan setahun sekali. Selain itu, kualitas dagingnya sangat baik dengan persentase karkas(daging dan tulang dalam, tanpa kepala, kaki dan jeroan)mencapai 60 %.

Jenis sapi ini lebih unggul dibanding jenis sapi alinnya, seperti: sapi madura, dan peranakan ongole (PO), serta sapi import asal Australia, yaitu sapi Brahma Cross (BC).

KAWASAN POTENSIAL PENGEMBANGAN PETERNAKAN SAPI

Wilayah Kalimantan Timur mempunyai peluang yang cukup besar untuk pengembangan sapi potong, karena memiliki Lokasi yang sesuai dengan persyaratan teknis untuk pengembangan usaha sapi potong yaitu meliputi topografi yang relatif datar , tersedia cukup air, kesuburan tanah cukup untuk menanam hijauan makanan ternak,sarana dan prasarana cukup memadai, mudah dijangkau oleh sarana transportasi dan adanya sarana komunikasi serta tersedianya tenaga terampil.

Lokasi, yaitu meliputi topografi yang relatif datar, tersedia cukup air, kesuburan tanah cukup untuk menanam hijauan makanan ternak, sarana prasarana cukup memadai, mudah dijangkau oleh sarana transportasi dan adanya sarana komunikasi serta tersedianya tenaga terampil.

Pengembangan peternakan dapat dilakukan dilahan pertanian, perkebunan dan lahan kosong. Peternakan Kabupaten Pasir mengarah pengembangan kawasan ternak ruminansia, khususnya sapi potong sebagai ternak andalan.

Berdasarkan pertimbangan indikator kewilayahan dipertimbangkan untuk menetapkan 2 (dua) wilayah yang dapat dijadikan sebagai daerah prioritas bagi pengembangan investasi usaha sapi potong, yaitu Kabupaten Pasir dan Kabupaten Penajam Pasir Utara (PPU)

DAYA UKUNG PENGEMBANGAN SAPI KALIMANTAN TIMUR
  • -kemudahan dalam memperoleh sapi bibit/bakalan, yang meliputi sapi lokal seperti sapi bali, sapi madura dan peranakan ongole (PO), serta sapi import asal Australia, yaitu sapi Brahma Cross (BC).
  • Pakan, tersedianya sumber hijauan makanan ternak (HMT) dan bahan baku konsentrat secara kontinyu dan kesinambungan.
  • Tersedianya lokasi pengembangn ternak sesuai dengan peruntukan rencana tata ruang wilayah (RTRW).
  • Adanya kemudahan pengurusan ijin usaha.
  • Tersedianya sarana produksi peternakan (sapronak) dan tenaga terampil di bidang peternakan.
  • Peluang pemasaran produk ternak sapi potong yang masih terbuka lebar, baik untuk kebutuhan lokal, nsional maupun eksport.
  • Kebijakan pemerintah daerah yang mendukung pengembangan usaha sapi potong dan kemudahan serta jaminan keamanan untuk berinvestasi.

Analisa Poduksi

Usaha sapi potong yang sering dilakukan oleh masyarkat peternak adalah usaha penggemukan, sedangkan yang dilakukan peternak kecil adalah sistem gaduhan dengan pengembalian anak sapi atau induk sapi. Usaha penggemukan sapi potong sangat menjanjikan, karena dengan memlihara sapi bakalan dengan berat badan 100 kg (umur 12 – 18 bulan) selama 3 -4 bulan akan memperoleh keuntungan.Selain itu dapat diintegrasikan dengan usaha pemanfaatan kotoransapi menjadi pupuk organik.

Kondisi Perdagangan di Kalimantan Timur

Tabel Perkembangan tingkat konsumsi daging sapi di Kalimantan Timur tahun 2003 - 2007 (Sumber Dinas Peternakan Kalimantan Timur 2008)
Secara regional, jumlah konsumsi daging sapi di Provinsi Kaliamntan Timur tahun 2007 mencapai 6.998,85 ton. Kebutuhan daging sapi ini sebagian besar dipenuhi dengan mendatangkan sapi dari luar daerah Kaliamntan Timur. Daerah-daerah yang banyak mengirimkan sapi potong ke Kalimantan Timur adalah Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Bali, dan Jawa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar